Book: ALLEGIANT

BUKU #3 DIVERGENT TRILOGY

ALLEGIANT

allegiant1

Bagaimana bila seluruh hidupmu adalah dusta?
Dan satu kebenaran-seperti satu
pilihan-mengubah semua yang kau percaya?
 
Tak ada lagi faksi, tak ada lagi panduan, hanya ingatan akan pengkhianatan. Tirani lain mengancam, para factionless yang selama ini terbuang mengambil alih kekuasaan.
 
Tris ingin ke luar batas kota dengan Tobias, bebas dari dusta dan prasangka. Tetapi, realitas baru mengubah hati orang-orang yang dicintai Tris. Sekali lagi Tris harus berjuang untuk memenangkan hati dan kepercayaan mereka. Perjuangan yang menuntut semua keberanian, kesetiaan, pengorbanan, dan cintanya.
“Kebohongan macam apa yang memungkinkan itu?”
“Kurasa itu aku serahkan kepadamu,” jawabku. “Karena kau lebih ahli berbohong.”
TRIS
… kami tidak tahu apa isi video tersebut, atau bahwa ternyata isinya dapat meluluh-lantakkan fondasi hidup kami, faksi-faksi, jati diri kami.
Aku harus melihat apa yang ada di luar pagar perbatasan.
TOBIAS
“Evelyn menutup kota,” aku bercerita.
… aku setengah mati ingin pergi, seperti hewan yang ingin meloloskan diri dari perangkap. Liar dan ganas. Siap menggigit menembus tulang.
TRIS
Pagi ini, para penjaga memberitahuku beberapa hal mengenai pemerintahan baru factionless. Mantan anggota faksi diminta untuk pindah ke dekat markas Erudite dan berbaur, tidak lebih dari empat orang dari satu faksi di setiap tempat tinggal. Warna pakaian kami juga harus dicampur. Sebagai akibat dari perintah tersebut, tadi aku diberi kaus kuning Amity dan celana hitam Candor.
TOBIAS
Aku tahu jawaban apa yang diinginkannya dariku-bahwa aku tidak melihat alasan mengapa kami harus bergabung dengan dunia luar.
“Orang selalu membentuk kelompok . Itulah faktanya.”
“Kelompok macam apa?”
“Yang ingin meninggalkan kota,” jawabnya. “Orang-orang ini menyebut diri mereka Allegiant-Setia.” “Karena mereka setia terhadap tujuan asli kota kita, kau mengerti?”
Momen Tris-Caleb
“Sepertinya banyak yang tak kita ketahui tentang satu sama lain.” Caleb mengetuk meja dengan jarinya. “Kalau saja selama ini kita bisa lebih terbuka satu sama lain.”
“Aku juga berharap demikian.”
“Dan sekarang sudah terlambat, ya.” Caleb mendongak ke langit-langit.
 
Saat melihatnya, aku melihat sosok anak laki-laki yang menggandeng tanganku di rumah sakit dan mengatakan segalanya akan baik-baik saja saat pergelangan tangan ibu patah. Aku melihat seorang abang yang mengajarkanku untuk menentukan pilihan-pilhanku sendiri pada malam sebelum Upacara Pemilihan.
Momen Tris-Tobias
 
Pelukannya lembut dan sepenuh jiwa. Saat kami melepaskan pelukan dan Tobias membuka mata, aku melihat semuanya, kilatan warna biru terang di mata kirinya. Warna biru yang membuatku merasa aman di dalamnya, seperti mimpi.

Banyak pertimbangan, pemikiran ataupun kata-kata yang saya kutip dari buku ini:

  • “Kurasa aku ingin menemukan apa yang sesuai untuk diriku,” lanjut Tobias. “Menemukan keseimbangan antara apa yang kuinginkan dan apa yang menurutku bijaksana.”
  • … dalam serangan, selamat atau tidak hanyalah masalah keberuntungan. Keterampilan tidak dibutuhkan untuk berdiri di tempat yang tidak bakal dikenai peluru atau melepaskan tembakan ke kegelapan dan mengenai orang yang tidak terlihat.
  • “Aku cuma berpikir apakah bagus jika kita menahan diri sekuat mungkin demi melakukan tindakan kecil, padahal kita sanggup melakukan sesuatu yang besar.”
  • “Kau akan kaget mengetahui apa yang dapat kau lakukan, saat kau harus melakukannya,” ujar Tris.
  • “Bagi Abnegation, kekuatan atau kekuasaan seharusnya hanya diberikan kepada orang-orang yang tidak menginginkannya.”
  • … faksi Abnegation berkata satu-satunya saat kau harus merelakan seseorang berkorban untukmu adalah jika itulah cara terakhir bagi mereka untuk menunjukkan bahwa mereka mencintaimu.

Bagian paling menyentuh dari buku ketiga ini adalah pada bagian epilog. Menceritakan sudut pandang seorang pahlawan sekaligus seseorang yang mencintai pahlawan. Rating Goodreads untuk buku ketiga ini lebih rendah dari buku kedua Insurgent tetapi entah kenapa bagiku keduanya memiliki nilai yang sama. Katakanlah, aku menyukai buku ketiga Allegiant ini. Karena semuanya diakhiri dengan manusiawi.

Api yang berkobar seterang itu memang tak ditakdirkan untuk bertahan lama.

Review ini jauh dari ukuran review-review profesional yang lebih rinci. Melalui review singkat ini, saya berusaha menyampaikan kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini, tentunya mengenai hal-hal mendalam yang saya baca dan saya ingin orang lain juga tahu.
 
Happy Reading.
 
Dyah Ayu Septiarini
Aku bukan milik Abnegation, atau Dauntless, atau bahkan Divergent.
Tempatku adalah di antara orang-orang yang kukasihi, dan tempat mereka adalah di hatiku.
Advertisements

2 thoughts on “Book: ALLEGIANT

  1. waaaaaa
    jd pengin nerusin baca jg
    *penasaran endingnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s