Book: Sepeda Merah Vol. 2

SEPEDA MERAH
Bunga-Bunga Hollyhock
 
by
 
KIM DONG HWA
sepeda merah
Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada.
     Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku…
   Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya…
     Dengan sedikit kesabaran mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya…”
 
Novel grafis ini merupakan Sepeda Merah volume 2, sebuah manhwa Korea yang ditulis oleh Kim Dong Hwa.
Sepeda Merah
Pada suatu hari yang cerah, aku menerima kartu pos tak terduga.
Kartu pos itu diselipkan ke amplop bagaikan kelopak bunga,
Dari balik amplopnya yang putih, aku dapat menghirup aroma angin
yang mengembus dedaunan pohon poplar.
Kartu pos itu berasal dari Desa Yahwari, di kanton imha (cari).
 
Desa Yahwari tidak terdaftar dalam peta.
 
 
Itu adalah pesan yang disampaikan oleh penulis yakni Kim Dong Hwa, mengawali kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan. Novel grafis ini sendiri terdiri dari 31 kisah pendek yang terbagi ke dalam lima bab. Kisah-kisah ini antara lain Bunga-Bunga Hollyhock, Kisah-Kisah Klasik Sastra Korea, Tunas-Tunas Muda, Impian Masa Kecil, Ketika Salju Turun, Di Lekuk Kedua Lenganmu. Favoritku diantaranya: Para Ayah yang Memiliki Anak Perempuan, Di Lekuk Kedua Lenganmu, dan Kisah Para Ibu.
Tunas-Tunas Muda
“Tunas-tunas muda ini berhasil menembus kulit kayu pohon yang jauh lebih keras dibanding kulit sapi. Bukankah itu luar biasa?” (merujuk pada tunas-tunas yang tumbuh pada sebuah pohon)
“Daun-daun kecil mereka jauh lebih rapuh dibanding kuku-kuku bayi yang baru lahir. Padahal mereka berhasil mengangkat gumpalan tanah yang beratnya seribu kali dirinya.” (merujuk pada tunas yang tumbuh dari tanah)
Bunga-Bunga Pacar Air
Di kisah pendek ini, aku menemukan suatu perasaan. Bahwa akan sangat bahagia jika kita pada akhirnya akan menemukan seseorang yang akan menemani kita hingga masa-masa tua ketika gigi-gigi menjadi rusak dan penglihatan berkurang, namun tetap memandang diri kita seorang wanita seperti sedia kala. Ah… *hahaha*
Yang pasti, novel grafis ini ditutup dengan baik oleh Kisah Para Ibu :’)
Sejujurnya membaca novel grafis ini memberikan ganjalan tersendiri di hati, yakni rasa sedih dan terjadinya hal yang sangat disayangkan. Namun selain itu juga memberikan perasaan hangat dan haru.
Dalam novel grafis ini juga terdapat beberapa sindiran halus serta nasihat. Seperti seseorang yang mengalami masa tua dengan tidak adanya perasaan puas karena selama hidupnya bercita-cita menjadi kaya, tabungan yang penuh tidak kunjung memuaskan hati. Karena dirinya selalu saja berpikir bahwa ada yang lebih kaya dari dirinya.
Review ini jauh dari ukuran review-review profesional yang lebih rinci. Melalui review singkat ini, saya berusaha menyampaikan kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini, tentunya mengenai hal-hal mendalam yang saya baca dan saya ingin orang lain juga tahu.
 
Happy Reading.
 
Dyah Ayu Septiarini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s