Book: The Winner Stands Alone

Sang Pemenang Berdiri Sendirian
The Winner Stands Alone
by Paulo Coelho
35254-the_winner_stands_al
Karya Paulo Coelho yang pertama saya ketahui adalah sekaligus buku yang telah banyak diterjemahkan yaitu The Alchemyst. Mungkin pendapat dari banyak kimiawan yaitu isi buku tersebut sama sekali jauh dari hal-hal mengenai kimia. Sejujurnya saya belum pernah membaca karena kesan yang ditimbulkan oleh awal buku itu cukup untuk membuat saya menjauh. Jadi saya sama sekali tidak mengetahui genre seperti apa yang ditulis penulis Paulo Coelho sampai beberapa waktu lalu saya membaca The Winner Stands Alone yang mengejutkan saya yaitu bercerita tentang pembunuhan…
 
tapi di dalam buku ini terlalu banyak sindiran halus mengenai cara manusia hidup yang hanya berkisar pada lahir-sekolah-bekerja-menikah-punya anak-tua-mati. Seakan mereka dikejar tenggat waktu dan tidak memiliki keinginan tersendiri tapi hanya menjalankan kehidupan yang dianggap kebanyakan manusia sebagai kehidupan yang ‘normal’. Seorang tokoh di buku ini yang akan menjadi ‘korban’, bernama Javits, selalu bertanya-tanya apa arti ‘kehidupan normal’. Javits memiliki hidup yang akan membuat banyak manusia normal iri, hidupnya sangat berkecukupan, bahkan dia memiliki lebih, dirinya terkenal dan banyak orang ‘membutuhkan’ dirinya. Namun dalam sakunya, Javits selalu menyimpan daftar tingkah laku ‘normal’ seperti berikut beberapa poin yang ditulisnya.
1. Normal berarti hal apa pun yang membuat kita lupa siapa kita dan apa yang kita inginkan; dengan begitu kita bisa bekerja untuk menghasilkan uang dan lebih banyak uang.
4. Bekerja dari jam sembilan sampai jam lima setiap hari, melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak mendatangkan kepuasan, hanya supaya kau bisa pensiun setelah tiga puluh tahun. (Mungkin kalau di Indonesia jam kerjanya jam 7-4 atau jam 8-5)
8. Mengejek orang yang lebih mencari kebahagiaan ketimbang uang dan menuduh mereka “tidak punya ambisi”.
9. Membandingkan objek seperti mobil, rumah, dan pakaian, lalu merumuskan arti hidup sesuai pembandingan tersebut, bukannya berusaha mencari tujuan sejati hidup ini.
12a. Mengkritik semua orang yang berusaha jadi berbeda.
16. Memakai sepotong kain yang berwarna yang disebut “dasi” di sekeliling lehermu sekalipun benda itu tidak memiliki fungsi.
Javits memperoleh poin-poin dalam daftar tingkah laku normal-nya dari pengamatan terhadap kehidupan di sekitarnya, dan bahkan beberapa poin dalam daftarnya berlaku juga di Indonesia, tempat yang terpisah jarak yang jauh dari setting cerita ini. (y)
 
Selain itu ada seorang Hamid, desainer haute couture dengan pemikirannya.
Dunia sibuk memikirkan cara menyelamatkan planet Bumi yang malang dari berbagai ancaman yang dilakukan manusia
“Ekologi. Selamatkan bumi. Konyol sekali.”
Hamid berpikir:
“Kenapa kita sesombong itu? Planet ini, dari dulu hingga sekarang dan sampai selamanya tetap lebih kuat daripada kita. Kita tidak bisa menghancurkan Bumi; kalau tindakan kita mulai di luar batas, planet inilah yang akan melenyapkan kita dari permukaannya, sementara Bumi sendiri tetap ada. Mengapa mereka tidak bicara tentang cara pencegahan supaya bumi ini tidak menghancurkan kita?
Kembali lagi saya disadarkan akan sesuatu.
Ah.. Sepertinya pendapat itu benar. Selama ini, apakah manusia hidup dengan cara berpikir yang salah? Termasuk diri saya sendiri?
Dalam buku ini juga terdapat hal yang membuat saya tertawa.
Setiap warna punya tujuan, sekalipun orang mengira warna itu dipilih secara acak. Putih melambangkan kesucian dan integritas. Hitam mengintimidasi. Merah membuat orang kaget dan tercengang. Kuning menarik perhatian. Hijau menenangkan dan memberi tanda boleh jalan. Biru lembut. Oranye membingungkan.
Penjaga pintu harus berpakaian hitam, dari dulu sampai selamanya.
Hahaha tidakkah kalimat terakhir membuat kalian tertawa? :p
Itu fakta, tetap menjadi fakta bahkan ketika ditulis dalam buku ini, yang berlatar belakang fashion dan film serta gemerlap dunia tersebut. Namun fakta yang diperjelas entah kenapa terasa lucu 🙂
 
Kemudian ada sebuah kalimat yang saya kutip dari buku ini, menyemangati diri saya yang saat ini diharuskan mengerjakan sebuah rancangan.
“Suatu keberanian besar dengan mencari inspirasi pada masa lalu dan bukan berusaha merancang masa depan.”
 
Review ini jauh dari ukuran review-review profesional yang lebih rinci. Melalui review singkat ini, saya berusaha menyampaikan kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini, tentunya mengenai hal-hal mendalam yang saya baca dan saya ingin orang lain juga tahu.
 
Happy Reading.
 
Dyah Ayu Septiarini

Advertisements

One thought on “Book: The Winner Stands Alone

  1. Hai, salam kenal, saya Endah. Suka Paulo Coelho juga ya? Saya juga belum lama ini membaca The Winner Stands Alone dan menulis review-nya di http://wp.me/p27W44-3b. Ayo berbagi cerita soal penulis ini 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s