Uraian Pemikiran (Kamu)

Hai. Ini aku 🙂 Sudah berjalan hampir 4 bulan sejak aku terakhir kali mampir kesini.

Mampir? Ya, cuma mampir, sementara, karena ga ada yang namanya abadi, selamanya dan lain-lain. Kamu tau? Aku masih sulit move on —-” Kepada seseorang yang terakhir kali pernah kuceritakan disini. Masih saja sulit meski telah menerima penolakan. Bukan penolakan yang sesungguhnya karena aku tidak pernah benar-benar memintanya untuk bersamaku. Aku hanya memintanya memberikan penolakan dan dia memberinya secara cuma-cuma. Terima kasih.

Tetapi yang aku butuhkan hanya kebenaran, jawaban mengapa ini dan bukan itu yang terjadi, mengapa dia dan bukan aku, serta mengapa kamu yang terus kuperjuangkan. Pertanyaan yang sepertinya takkan pernah terjawab, karena ketika kucoba untuk memikirkan jawabannya, yang terjadi hanyalah migren yang menusuk nusuk di kepala sebelah kanan. Padahal aku tidak pernah punya migren.

Mungkin, dia memang denganmu, dapat terlihat, kamu memasukkannya dalam daftar orang-orang yang pertama kamu datangi. Ya, mungkin. Semua kata-kata yang dia ucapkan, selamat pagi, selamat malam, mimpi indah dan lain-lain, jika bukan untuk kamu lalu untuk siapa lagi? Ya kan. Mungkin, sudah sejak lama ada yang berbeda. Hanya aku saja yang tidak pernah peka. Mungkin yang awalnya hanya berasal dari satu sisi (darinya), kini telah terbalaskan olehmu. Ya kan? Hmm, mungkin.

Jika itu menyangkut kamu, jika itu menyangkut kalian, segalanya mungkin terjadi. Ya kan? Karena hanya ada satu hal yang tidak mungkin, aku dengan kamu. Benar kan? Haaaaaaah. Seperti membunyikan Mi (3) menggunakan Bariton, awalnya aku hanya mengira-ngira solmisasi itu, namun terasa tepat, yang kusukai dan terus terngiang di telinga.  Entah apa hubungan Bariton denganmu tapi ketika ada yang berbeda, bisakah untuk menguraikan semuanya saja? Tidak menyembunyikannya dan membuatku kusut seperti benang.

Sesungguhnya, untuk memulai yang baru, untuk bertemu dengan orang-orang baru disini terasa sulit, terutama untuk menggantikan posisimu. Karena mereka tidak mengetahui sesuatu dari hidupku sebelum aku pindah ke kota ini, aku bahkan belum pernah cerita mengenai kehilanganku seperti aku membaginya denganmu.

 

Yang merindukan Ibu, merindukan Ayah, merindukan Mbah, merindukan adik laki-lakiku Bima, merindukan kamu.

Dyah Ayu Septiarini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s