Book: The Hobbit

Inilah kisah tentang seorang Baggins yang pergi bertualang, dan mendapati dirinya

melakukan dan mengucapkan hal-hal yang tak disangka-sangka…

Sinopsis:

“Bilbo Baggins adalah hobbit yang suka hidup nyaman, tidak ambisius, jarang bepergian jauh selain ke gudang makanan di lubang hobbit-nya di Bag End. Tetapi hidup nyamannya terganggu ketika Gandalf si Penyihir, dan 13 kurcaci mendatanginya suatu hari, untuk mengajaknya menempuh perjalanan “pergi dan kembali”. Mereka berencana mengambil harta Smaug, naga raksasa yang sangat berbahaya…”

 

16134225

Sejak awal sejujurnya baca buku ini bukan karena keinginan yang murni. Awalnya saya hanya tau tentang film berjudul The Hobbit yang mengingatkan saya tentang The Lord of The Rings, kemudian saya tau ternyata film tersebut hasil adaptasi dari novel The Hobbit karya J.R.R. Tolkien yang berada di urutan ke5 dalam 100 Novel Remaja Terbaik Sepanjang Masa dari NPR Books. Ternyata buku ini adalah pendahuluan dari kisah The Lord of The Rings. Karena tidak sempat nonton filmnya, saya memaksa untuk baca bukunya.
Awalnya saya semangat sekali tetapi lama kelamaan semangat merosot tajam, entah kenapa tidak ada dorongan yang dapat diberikan oleh lembar-lembar pertama buku ini yang dapat membuat saya terus membalik lembarannya hingga akhir. Mungkin ini karena saya juga tidak tertarik menonton The Lord of The Rings. Ya, saya belum pernah menonton filmnya dari awal hingga akhir. Hanya lihat bagian tengah filmnya sekitar 15 menit. Saya stuck, coba membaca buku lain dan saya menyelesaikan 3 novel dalam 2 hari. Bukankah itu aneh? Tapi saya kembali memaksa membaca buku ini meski banyak tumpukan buku lain yang menggoda. Saya ingin tau apa yang menjadikan buku ini istimewa sehingga ada di nomor 5. Lembar-lembar yang saya baca kemudian bercerita tentang petualangan yang dialami Bilbo, disertai pula dengan gambar ilustrasi tempat. Makin lama saya menikmati membaca lembar demi lembar sampai akhirnya hari ini saya menyelesaikannya. Yah,meski saya butuh kurang lebih hampir sebulan untuk menyelesaikannya tetapi akhir buku ini membuat saya emosional, terutama ilustrasi mengenai kediaman Bilbo di Bag End.

Saya akan bilang “mungkin awalnya saya mau nyerah aja, bukunya dikembaliin aja deh soalnya depannya gak bikin semangat baca terus. ketika selesai baca, saya gak nyesel dulu udah penasaran sampe maksa nerusin baca karena ceritanya sama sekali gak bikin kecewa, dan endingnya bikin saya paham kenapa novel ini disebut Novel Remaja Terbaik Sepanjang Masa.” 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Book: The Hobbit

  1. Aku malah belum baca ini nih! 😉

    Like

  2. Weh… Jadi penasaran. Endingnya bagaimana si kok bisa jadi novel remaja terbaik?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s