Cerpen PORSIP 2012 : Arsitek Peradaban

ARSITEK PERADABAN

 

Aku sedang duduk di depan MacBook putih milikku, menatap layar dengan penuh perhatian, membaca kata demi kata dalam sebuah tulisan berjudul Dunia Para Raksasa ketika jam tanganku mengeluarkan bunyi tidak asing yang kukenali sebagai bunyi alarm. Kulirik jam di pergelangan tangan kiriku, tepat pukul 22.00. Seharusnya aku segera melompat bangun dan bergegas meninggalkan kantor, namun tulisan ini menahanku. Percaya atau tidak, tulisan ini menyadarkanku tentang sesuatu.

***

            Pagi ini lebih dingin dari kemarin, hujan belum berhenti turun sejak semalam. Sejak bangun tidur, hal yang memenuhi pikiranku adalah pengumuman itu. Bagaimana hasilnya? adalah kata yang berkali-kali kuucapkan dalam diam, tentu saja dalam pikiranku. Entah ini untuk yang ke-berapa kali, dan aku yakin telah mengucapkannya dengan banyak intonasi berbeda.

Aku memasuki gedung tempatku bekerja dan langsung menuju ke meja kerjaku. Aku rasa aku masih memikirkan hal itu ketika seseorang menepuk pelan bahu kananku.

“Lebih awal dari biasanya?.”, tanya rekan kerjaku. Kubalas dengan senyum.

“Nggak langsung ke ruang administrasi pegawai?”, tanyanya lagi.

“Ngapain?”

“Halo, Nang? Masa’ lupa? Suratnya datang hari ini, dan sudah datang.”

“Hehehe saya nggak lupa kok mas, cuma belum siap bacanya.”. Ya, inilah yang mengganjal pikiranku sejak tadi pagi. Surat itu dan isinya adalah jawaban pertanyaanku, sebab surat itu berisi pengumuman yang entah akan mengubah hidupku atau tidak.

“Penyakit itu lagi, nggak pede amat sih. Kamu udah lulus sampai tahap seleksi kedua. Pengumuman itu tentang lulus apa nggaknya kamu ke tahap seleksi ketiga. Sudah sejauh itu kok masih nggak pede.”

“Whoa bukan nggak pede tapi sedikit takut.”, aku mengakuinya.

“Takut karena apa?”

***

            Bung Karno pernah berkata “Berikan aku 1000 orang tua maka akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 orang pemuda maka aku akan guncangkan dunia.”. Aku percaya itu dan aku ingin menjadi bagian dari pemuda yang akan mengguncangkan dunia. Impianku adalah menjadi arsitek peradaban, terutama bagi bangsaku sendiri.

Saat aku membaca tulisan berjudul Dunia Para Raksasa itu aku kembali melihat ke dalam diriku. Apa aku bisa menjadi pemuda yang akan mengguncang dunia jika aku belum bisa sportif, bahkan terhadap diriku sendiri? tanyaku, lebih bermaksud menyadarkan daripada menghakimi.

Kuputuskan untuk berdamai dengan diriku sendiri dan mulai berjalan menuju ruang Administrasi Pegawai untuk mengambil suratku, memutuskan akan menerima apapun hasilnya dan mengambil resiko apapun yang akan terjadi di hadapanku.

***

            Dan inilah aku sekarang, di pagi hari Kamis yang cerah, memandangi bagian depan gedung beraksitektur khas Prancis dari pelataran parkir yang terbilang luas. Tentu saja Kamis adalah hari kerja, tapi aku tidak bolos. Hanya izin sampai wawancara hari ini selesai lalu kembali ke kantorku. Jaraknya cukup dekat. Dapat ditebak, aku lulus tahap seleksi kedua. Tahap ketiga adalah wawancara sekaligus tahap mempertanggungjawabkan desain arsitektur yang kubuat dan kukirimkan, yang membawaku lulus tahap seleksi kedua. Ini tidak mudah, tapi belum tentu sulit.

Tak terasa sekarang giliranku untuk memasuki ruangan itu. Aku rasa aku cukup gugup karena tiba-tiba aku merasakan perutku mulas tak tertahankan dan telapak tanganku basah karena keringat. Tapi Monsieur Felix ternyata orang yang sangat menyenangkan, gugupku menguap tak bersisa.

“Apa yang membuatmu ingin pergi ke Prancis? Tapi jangan jawab saya dengan jawaban biasa.”, ucap Monsieur Felix dengan senyum menghiasi bibirnya. Pertanyaan ini membuatku bingung, aku tidak punya jawaban luar biasa yang dilandasi fakta ilmiah ataupun semacam itu.

“Mimpi, tapi bukan mimpi yang datang ketika tidur. Dan mimpi nggak butuh alasan atau jawaban atas pertanyaan kenapa.”. Aku tidak tahu kenapa tapi Monsieur Felix tersenyum lebar sekali hingga menampakkan deretan giginya yang putih. Kubalas senyumnya tanpa rasa canggung.

***

            Seminggu berlalu sejak hari wawancara itu, dan hari inilah pengumumannya akan diberitahukan. Aku telah sampai di depan pintu aula besar tempat pengumuman itu akan dibacakan. Kuamati orang-orang di sekeliling koridor, cukup mudah untuk mengenali para pendaftar beasiswa ini. Kutatap lagi pintu menuju aula besar. Setelah aku membukanya dan masuk ke dalam ruangan itu, mungkin akan ada hal-hal baru yang akan datang padaku. Tapi aku tau, aku punya mimpi, aku belajar dan akan terus belajar. Menjadi pemuda yang akan mengguncangkan dunia. Sportif terhadap diriku sendiri. Bicara tentang mimpi, Monsieur Felix berkata bahwa dengan mewarnai mimpi kita akan mengerti sesungguhnya apa yang dikatakan tentang kreatif. Wujudkan itu, dan kembali untuk bangsaku. Arsitek peradaban.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s