Cerita Pendek 1 – Duta Bahasa Indonesia

Pagi ini teramat sepi, hanya terdengar suara sepeda yang dikayuh perlahan melewati jalan di depan rumahku. Langit di atas kotaku masih kemerahan, adzan subuh belum lama diperdengarkan. Pintu pagar yang kudorong perlahan menimbulkan suara decitan yang terdengar sama dari waktu ke waktu.
“Selamat pagi, Fa. Hendak kemana pagi-pagi begini?”
“Oh selamat pagi. Ke Jakarta, Bu Rei. Ada wawancara kerja.”, jawabku sambil menyunggingkan senyum pada tetangga sebelah rumahku.
“Kamu jadi bekerja di redaksi surat kabar itu?”
“Doakan saja, Bu.”
“Tentu. Semoga berhasil ya Ifa.”
“Terima kasih, Bu.”. Tetanggaku pun kembali mengayuh sepedanya.
Aku meneruskan langkahku menuju halte untuk menunggu bus. Halte masih sepi, hanya ada aku dan seorang lelaki berkemeja putih. Aku sengaja berangkat lebih awal, maklum perjalanan Bogor-Jakarta memerlukan waktu yang tidak sebentar. Bus yang kutunggu belum datang, meskipun aku memang baru menunggu selama 10 menit. Kulirik lelaki berkemeja putih itu, kutaksir usianya hanya 1 atau 2 tahun diatasku. Tanpa diduga, sepertinya lelaki itu mengetahui kalau aku meliriknya dalam diam. Dia pun tersenyum ke arahku. Aku hanya dapat membalas dengan senyum kikuk. Beruntung bus yang kutunggu sudah datang, segera aku naik tanpa berani menoleh lagi.
Aku sampai di kantor redaksi saat jam tanganku menunjukkan pukul 06.45. Langit pagi ini cerah, biru pucat tersapu putih alam dengan sinar matahari yang semakin menghangat. Merasakan alam dengan caraku membuatku semakin bersemangat untuk melaksanakan wawancara ini dengan sebaik-baiknya.
Wawancara pun dimulai. Rasa gugup sempat menguasaiku, membuatku merasakan sakit perut tak tertahankan.
“Sudah tau nama saya?”
“Sudah, Pak.”
“Kamu bisa berapa bahasa?”, tanya Pak Cholik. Meskipun aku merasa bingung, tapi aku tetap menjawabnya.
“Dua, Pak.”
“Wah bagus, bahasa Inggris kah?”

“Bukan, Pak. Bahasa Perancis.”. Pak Cholik hanya manggut-manggut menanggapi jawabanku, mungkin sedikit aneh ada orang yang bisa berbahasa Perancis tanpa mengaku bisa berbahasa Inggris juga.
“Satunya lagi tentu bahasa Indonesia, benar?”.
Wawancara ini tidak seperti wawancara kerja yang ada dalam bayanganku sebelumnya, benar-benar santai. Mungkin karena kepribaddian Pak Cholik yang hangat.
“Benar, pak.”
“Dapat berbahasa asing diluar bahasa Ibu memberikan rasa bangga tersendiri toh? Tapi pandanglah bahasa Ibu tidak hanya sebagai bahasa yang perlu dihargai, ada yang perlu kita lakukan lebih dari itu.”. Aku mengangguk meskipun kurang mengerti maksud ucapan Pak Cholik. Tapi aku bertekad untuk mencari makna ucapan Pak Cholik.
Langit sore berwarna kelabu, titik-titik air turun dari langit ketika aku sampai di halte dekat rumahku. Kuputuskan untuk menunggu hujan reda. Tak kusangka aku bertemu kembali dengan lelaki berkemeja putih itu. Dia duduk di sebelahku, lagi-lagi hanya menyunggingkan sebuah senyum. Kali ini kubalas bukan dengan senyum kikuk, melainkan dengan anggukan yakin.
Hujan baru saja berhenti, namun lelaki itu sudah menghilang dari tempatnya tadi. Kunaikkan bahuku pertanda tak tau dan mulai berjalan pulang menyusuri trotoar. Sempat kutatap Tugu Kujang kebanggaan masyarakat Bogor. Kota hujan-ku kini dan dulu.

Keesokan harinya
Hari ini aku resmi bekerja sebagai penulis di sebuah surat kabar harian nasional di Jakarta. Perasaan senang membuncah dari dadaku, mengingat perjuanganku tempo hari hingga saat wawancara yang berhasil meyakinkanku bahwa impianku benar. Impianku menjadi seorang penulis tampaknya belum memudar meski sebulan lalu saat kelulusan sekolah menengah aku sempat ditawari bekerja di Pusat Penelitian Nuklir di Jakarta.
Jam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 07.00, waktu normal untuk memulai aktivitas. Di hari pertama aku bekerja ini akan ada rapat dengan Pak Cholik selaku pemimpin redaksi surat kabar dan juga penulis lainnya. Seingatku pertemuan ini dimaksudkan untuk membahas perubahan susunan penulis yang menangani masing-masing bagian isi surat kabar.
Tidak kurang dari 30 menit rapat telah selesai dan para penulis mulai melaksanakan tugas sesuai bagiannya. Aku ditempatkan untuk mengisi kolom Jingga Indonesia yang berisi artikel dengan tema Indonesia yang fokus terhadap penggunaan bahasa Indonesia.
Dalam pekerjaan pertamaku ini aku dibantu seorang penulis senior bernama Zai, namun aku belum bertemu dengannya karena dia tidak menghadiri rapat. Sambil menunggu, kuputuskan untuk mulai mengerjakan artikelku di meja kerja yang terbilang baru ini. Sesekali kulirik meja kerja di sampingku. Ya, itulah meja kerja seniorku yang bernama Zai.
Tiba-tiba kudengar meja kerjaku diketuk seseorang. Kudongakkan kepala ke arah sumber suara.
“Ya, ada apa?”, tanyaku pada orang yang mengetuk meja kerjaku. Tidak kuduga ternyata yang ada di hadapanku ini adalah lelaki berkemeja putih yang telah dua kali bertemu denganku. Dari tanda pengenalnya, dia adalah senior Zai yang akan membantuku.
“Selamat pagi.”, sapaku mencoba memulai pembicaraan. Tapi entah kenapa, Zai bukan membalas sapaanku dengan bahasa verbal malah menuliskannya di atas kertas lalu disodorkannya padaku. Dengan bingung aku menerima kertas itu dan membacanya dalam diam. Kenapa dia tidak menjawab malah menuliskannya seperti ini?, pikirku.
Selamat pagi
Namaku Zai
Apa bisa kita mulai pekerjaan ini sekarang?
Itu yang dia tuliskan. Aku mengangguk dan mulai memperlihatkan artikel yang baru setengah kubuat. Dalam artikel itu aku membahas masalah penggunaan bahasa asing yang mulai marak, baik sebagai nama rubrik media massa maupun judul dalam pertelevisian Indonesia. Satu hal yang ada dipikiranku mengenai ini, Apakah kalau menggunakan bahasa Indonesia kurang percaya diri?
Zai banyak membantuku dalam memilih hal yang perlu diungkapkan atau tidak dan banyak hal lain dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Zai juga banyak membetulkan penulisan yang tidak sesuai EYD. Ingin sekali aku menganggapnya EYD berjalan. Namun dengan ini aku mengerti maksud ucapan Pak Cholik kemarin. Bahwa bahasa Ibu ada bukan hanya untuk dihargai saja, tapi ada untuk dicintai, dipraktikkan, dan tentu saja bangga karena memilikinya.

Jika Zai dapat mengutarakannya dalam bahasa verbal, mungkin dia akan mengatakan sebuah realita bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa terbesar ke-9 di dunia. Hal itu karena bahasa Indonesia dituturkan oleh sebagian besar warga Indonesia yang termasuk dalam populasi besar penduduk dunia. Namun, paculah tekad untuk menjadi lebih baik. Jangan hanya dapat bertutur bahasa Indonesia, tapi bertuturlah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai acuan yang telah ditetapkan. Banggalah terhadap bahasa Indonesia.
Zai tidak berbahasa Indonesia dalam komunikasi verbal, namun dalam tulisannya bahasa Indonesia kebanggaannya.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Pendek 1 – Duta Bahasa Indonesia

  1. bagus dek..
    entah kenapa tiap baca pak Cholik teringat pakdhe Cholik, komandan blogcamp.. coba mampir di sana 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s