Pembagian rapor

“Semoga Sang Kebahagiaan, dan pelepas sepi itu selalu bersama kita. Dan ketika diri kita sudah tak mendatangkan kebahagiaan untuk dirinya, belajarlah untuk merelakannya.”

Ada seorang teman yang pernah mengatakan itu. Bukan padaku, tapi pada semua orang. Karena dia menuliskannya di profil Facebook miliknya. Saat itu aku belum terlalu mengenal dia, hanya baru mengenal namanya. Dan tentu saja saat itu aku belum mengerti apa yang dia maksud melalui kata-katanya, karena saat itu aku tidak merasakan hal yang sama. Pastilah kalian mengerti.

Saat waktu sama sekali tak mungkin dihentikan, apapun bisa terjadi. Yang tadinya berada di atas, bisa berada di bawah. Dan sebaliknya. Begitu juga hal lainnya di dunia fana ini.
Dalam selang waktu yang cukup lama, banyak hal datang padaku. Aku belajar, mencoba belajar tentunya. Dan ketika aku mulai menyukai pelajaran itu, aku menginginkan hasil “SUPER” dalam rapor akhir – awalku.

Waktunya telah tiba, 13 bulan lamanya aku menanti pembagian raporku. Merasa terlalu ringan untuk masuk dalam khayal yang “agak” tinggi namun merasa terlalu berat menyadari mungkin tak semua khayal akan jadi nyata.
Detik-detik visualisasi pun tak dapat dielakkan, aku tak bisa berlari begitu saja dengan nyali ciut bergema dalam ruang hampa udaraku.
“Aku harus menghadapinya, itu yang aku tunggu-tunggu.”, kataku yakin.

Kulihat sebuah garis lurus namun pendek yang berwarna merah mengisi kekosongan raporku. “Apa maksudnya?”, kudengar diriku sendiri bertanya.

Tiba-tiba, kata-kata yang pernah kubaca terngiang-ngiang di telingaku. Seperti ada yang menyuarakannya.
Sontak aku terduduk lemah. Merasa mual telah mengeluarkan segala isi pikiranku.

“Kata-kata itu benar, aku harus merelakannya. Mungkin memang aku membutuhkan pelepas sepi, tapi sepertinya tidak begitu baginya.”

Dia punya dunia sendiri, yang harus dibuka oleh dirinya. Bukan aku, kamu, atau mereka. Mungkin dia memang membutuhkan aku, sama dengan dia membutuhkan kamu. Tapi coba mengerti semua kemungkinan, mungkin aku adalah lampu jalanannya yang terang. Tapi mungkin juga aku adalah gelap yang hanya sebagai hiasan, bahkan pajangan. Itu mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s